A Brave Girl with 1001 Theories of War Karya Ainsyah Salsabil

0

 

A Brave Girl with 1001 Theories of War

Sumatera Barat, 26 Juni 2026

Sinar cahaya matahari memasuki kamarku melalui ventilasi jendela. Cahaya matahari pagi begitu menyilaukanku, seolah menyuruhku untuk bangun dari tidur. Aku bangun dari tidur dan berjalan ke arah jendela. Aku membuka kedua jendela yang ada di kamarku. Tercium aroma rumput dan tanah di pagi hari yang basah. Orang-orang berlalu lalang di depan rumahku Ini hal yang wajar karena rumahku berada di pinggir jalan desa ini.

Orang-orang di desa ini terkenal dengan rasa kekeluargaannya yang tinggi. Mereka selalu saling sapa di setiap kali bertemu. Mereka juga sering tolong-menolong di setiap kali ada salah satu warga yang terkena musibah, meskipun ekonomi masyarakat yang ada di desa ini tergolong rendah. Namun rasa kekeluargaan di desa ini sangat tinggi. Padahal bisa saja mereka tidak memedulikan salah seorang warga yang terkena musibah dan melanjutkan pekerjaannya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Tapi mereka tidak melakukan hal yang tidak terpuji itu. Mereka lebih memilih untuk mementingkan orang lain di atas kepentingan mereka sendiri.

Aku merasa bahagia dan bersyukur dapat tumbuh besar di antara orang-orang yang baik seperti mereka. Aku membantu ibuku yang sedang pergi memanen padi dengan membersihkan rumah kami yang kecil ini, meski begitu aku merasa bersyukur mempunyai tempat tinggal. Ibu selalu mengingatkanku tentang banyak orang-orang di luar sana yang tidak mempunyai tempat tinggal. Jangankan tempat tinggal, mereka bahkan tidak mempunyai makanan untuk dimakan sehari-hari.

Perkenalkan, namaku Amira. Biasanya aku dipanggil dengan Mira. Aku berumur 15 tahun. Aku merupakan seorang anak dari sepasang petani. Ayah sudah lama meninggal. Ayah meninggal saat aku berumur 6 tahun karena penyakit asma keturunan dari ibunya. Penyakit asma itu kumat pada suatu malam. Ayah meninggal malam itu juga. Aku dan adikku yang masih kecil tidak tahu apa-apa mengenai hal itu. Kami hanya menganggap ayah pergi sebentar dan akan kembali. Kami selalu bertanya kepada ibu kapan ayah akan pulang, tapi ibu selalu bilang ayah pasti pulang besok. Ibu sangat sabar menghadapi ujian ini. Sejak ayah meninggal, pendapatan ekonomi di keluarga kami mulai menurun. Ibu mulai mengurus semuanya sendiri, mulai dari menafkahi kami dan berusaha menyekolahkanku meski hanya tamat SMP. Ibu juga membesarkan adikku yang pada saat itu berumur 4 tahun sendirian.

Seusai membersihkan rumah, aku bersiap untuk pergi ke sawah. Aku mengambil topi petani dan memakainya. Aku berjalan ke arah pintu dan membuka pintu. Dari ambang pintu terlihat adik perempuanku satu-satunya yang tengah menyapu halaman rumah. Dia masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Dia sangat cerdas. Dia juga memiliki wajah dan kulit yang lembut. Dia rajin dan baik hati. Dia juga selalu patuh terhadap orang tua, bisa dibilang dia sempurna. Dia dapat melanjutkan sekolahnya dengan beasiswa prestasi, hasil usaha kerja kerasnya.

Hampir semua kebutuhan sekolahnya dia tanggung sendiri. Semua itu berasal dari beasiswa prestasi dan juga hasil kerja kerasnya membantu ibu di sawah milik saudagar kaya yang baik hati yang ada di desa kami. Setelah mendapat upah, dia selalu menabung upahnya, ibu jadi terbantu olehnya. Sedangkan aku hanya tamat SMP dan sekarang bekerja serabutan di sawah milik saudagar kaya di desa kami dan pada malam hari aku mengajar mengaji.

“Uni kama tu pagi-pagi gini?” tanya Sofi sambil menyapu halaman.

“Ke ladang, nio bantu amak manen padi, tolong jaga rumah selama uni ndak ado di rumah yo dek,” ucapku sambil berjalan meninggalkan rumah.

Seperti biasa, orang-orang pasti saling menyapa ketika saling bertemu, begitu pula denganku. Aku menyapa orang-orang ketika bertemu di perjalanan menuju sawah. Sesampainya di sawah milik saudagar tersebut, aku melipat celana dan turun ke sawah. Orang-orang sudah mulai beristirahat sejenak, wajar saja, mereka sudah sampai di sini dari pukul setengah tujuh pagi seperti ibu. Ibu sudah pergi ke sawah pagi-pagi setelah shalat Subuh. Aku menghampiri ibu dan bertanya apa yang dapat aku bantu.

“Amak, labiah baik amak istirahaik sabanta, bia ambo yang bantu amak, apo yang bisa ambo bantu amak?” tanyaku sembari berjalan mendekati ibu.

“Ndak ba a do, amak masiah kuaik kok, kau duduak aja daulu di.” Perkataan ibu terputus tiba-tiba.

Tiba-tiba perasaanku tidak enak, padi yang telah dipanen yang ada di tangan ibu tiba-tiba jatuh ke tanah. Orang-orang yang tadinya sedang duduk beristirahat, tiba-tiba bangkit dari duduknya, bahkan ada yang berlari. Wajah mereka yang tadinya sedang tertawa berubah menjadi masam. Sebagian dari mereka bahkan berteriak karena panik, ada pula yang berlari. “DUARRR!!!” Perasaanku mulai tidak enak, jantungku berdebar sangat cepat ketika melihat kobaran api yang disertai dengan suara ledakan yang begitu keras di antara rumah-rumah warga, para warga yang tadinya sedang memanen padi, para warga yang sedang beristirahat, berlari ke rumah mereka masing-masing untuk menyelamatkan keluarga mereka.

Bahkan sebagian para warga yang tadinya di rumah saja, keluar dari rumah mereka sambil berlari panik. Mereka berlari ke arah berlawanan. Asap hitam membuat pandanganku menjadi buram. Ibu tiba-tiba duduk tersungkur ke bawah tanah mengingat adikku yang masih ada di rumah. Aku berusaha memapah ibu untuk bangun. Kening ibu mulai berkerut karena panik, bibir ibu mulai pucat, begitu pula tangan ibu yang mulai dingin. Tiba-tiba ibu tidak bisa berjalan karena kakinya mulai lemas. Aku berusaha untuk memapah ibu secepatnya ke tempat yang aman, lalu terdengar suara ledakan itu tidak hanya berasal dari arah rumah warga saja, namun juga berasal dari kantor kepala desa, rumah saudagar kaya yang ada di desa kami, serta lahan sawah, di mana tempat kami berdiri tadi.

Nyaris saja kami tewas, jika kami masih berada di lahan sawah tersebut. Ada begitu banyak pertanyaan di benakku, apa yang sedang terjadi? Mengapa ada ledakan bom di mana-mana? Di mana aku, ibuku dan adikku akan tinggal jika rumah kami hancur? Darimana bom-bom itu berasal? Hingga sejenak aku tersadar ketika ibu menyebutkan nama adikku. Benar, adikku masih di sana, di rumah, di mana suara ledakan itu berasal.

“Mira, adiak kau masiah ado di rumah… kau pai sajo selamatkan adiak kau, jan pedulikan amak,” ucap ibu dengan lemas. Meski ibu bilang demikian, aku tetap tidak dapat mengabaikan ibu begini. Aku memapah ibu ke semak-semak yang berada di dekat bukit yang ada di desa kami. Aku mengingatkan ibu untuk tidak ke mana-mana dan tetap menungguku di sini.

Aku bergegas berlari kembali ke rumah, keringat dingin bercucuran di keningku. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku mempercepat kakiku untuk berlari. Sedari tadi mata kiriku kelilipan. Biasanya orang-orang bilang ada pertanda buruk, meskipun itu hanya mitos. Aku tetap khawatir. Aku berharap tidak terjadi apa-apa dengan Sofi di rumah. Orang-orang berlarian. Sepanjang jalan aku melihat rumah warga yang terbakar akibat ledakan bom tersebut. Kobaran api menghanguskan rumah mereka. Para polisi sedang mengevakuasi warga ke tempat yang lebih aman. Di sepanjang jalan para dokter mencoba mengobati pasien yang sedang sekarat. Beberapa di antara pasien ada yang tidak dapat diselamatkan. Mobil pemadam mulai berdatangan. Aparat TNI juga sudah menyiapkan peralatan perang seperti mobil tank, senapan, meriam, dan lain sebagainya jikalau peperangan tiba-tiba terjadi. Aku mulai merasa sangat cemas akan keadaan adikku saat ini.

Di setiap rumah yang terbakar ada polisi yang berjaga. Hal ini dikarenakan takut para warga akan menerobos masuk dan membahayakan diri mereka di lokasi kejadian. Garis polisi dipasang di setiap pagar rumah warga yang terbakar.

Aku sampai di depan rumah setelah melewati kerumunan warga yang berlarian menyelamatkan diri. Tampak polisi sedang berjaga di depan rumah. Aku tercengang melihat rumah peninggalan ayah satu-satunya telah hangus terbakar. Aku bisu seribu bahasa, mematung di tempat dan menitikkan air mata. Aku duduk tersungkur ke tanah. Air mataku tidak dapat kuhentikan. Para polisi kembali untuk mengamankan diriku. Tapi aku melawan dan berhasil lari ke arah belakang rumah.

Api berkoar-koar di setiap sudut rumahku. Aku menutup hidungku dengan baju lengan panjang yang sedang kukenakan. Aku berharap dapat menemukan adikku tersayang di dalam sana. Asap membuat penglihatanku kabur. Aku berusaha agar tidak pingsan di tempat ini. Meski berbahaya aku tetap berusaha untuk menyelamatkan adikku. Aku mencari di setiap ruangan, mulai dari kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga. Aku tidak berhasil menemukannya, aku mulai putus asa membayangkan kalau-kalau telah terjadi sesuatu kepadanya.

Aku berjalan keluar dari rumah dengan rasa putus asa. Aku merasa diriku ini adalah seorang pecundang yang tidak dapat melindungi keluarganya, orang yang disayang. Di ambang pintu belakang rumah tiba-tiba suara yang begitu familiar terdengar di telingaku. Sebuah suara seakan membuat jantungku berhenti berdetak, aku mengenal suara itu, suara yang sangat aku rindukan. Aku sangat bersyukur kepada Allah. Aku menoleh ke belakang ketika mendengar suara itu. Aku menitikkan air mata.

“Uni…” itu suara Sofi. Aku berjalan ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Air mataku keluar dengan sendirinya. Aku menangis tersedu-sedu.

“Alhamdulillah kau baik-baik aja..”

DOR! DOR! DOR! Aku tersentak mendengar suara tembakan yang begitu keras. Aku dan Sofi bersembunyi di semak-semak yang ada di dekat rumah kami. Itu tentara negara asing. Jumlah mereka sangat ramai. Aku memeluk Sofi erat-erat yang sedang gemetaran. Mereka berbicara bahasa asing. Salah seorang di antara mereka memberi perintah. Aku rasa dia adalah pimpinan mereka. Para tentara itu berlari ke arah yang berbeda. Senjata yang ada di tangan mereka sangat canggih. Mereka mulai menembakkan peluru ke arah orang-orang yang berusaha melarikan diri ketika mendengar suara ledakan. Sebagian dari tentara tersebut membawa beberapa orang dari warga desa kami secara paksa ke dalam mobil tank mereka dan beberapa dari warga desa kami dibawa dengan mobil tentara mereka.

Bau amis tercium di mana-mana. Desa kami yang tadinya indah dan damai hancur begitu saja setelah ledakan itu. Sesaat aku mulai mengkhawatirkan ibu yang masih bersembunyi di dekat bukit. Aku meminta Sofi untuk tetap bersembunyi di sini karena ini adalah daerah paling tersembunyi dan aman untuk saat ini. Aku berlari keluar dari semak-semak itu dan nahas aku ketahuan oleh salah seorang tentara asing itu. Dia hendak menembakkan peluru dari senapan ke arah kakiku. Sofi yang menyaksikan hal itu tidak dapat diam saja. Dia menggantikanku mengenai peluru dari senapan itu. Kaki Sofi berlumuran darah, aku sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Sofi memaksaku untuk melarikan diri. Awalnya aku tidak mau meninggalkan Sofi yang sedang terluka parah begitu saja, namun dia menangis dan memaksaku untuk pergi melarikan diri. Akhirnya aku pergi meninggalkan Sofi yang sedang terluka parah. Air mata mengalir begitu deras dengan sendirinya, para tentara masih mengejarku, aku berlari sekuat tenaga dan… “ DOR!!!”

***

Seorang wanita paruh baya duduk di semak-semak sambil menunggu seseorang datang. Dia menangis tersedu-sedu. Perasaan bersalah, takut, khawatir, menyelimuti dirinya. Dia duduk sambil memeluk lututnya. Wanita itu sedang menunggu kedua putrinya datan. Dia mulai berfikir yang tidak-tidak akan kedua putrinya. Wanita paruh baya yang sangat kurus, lemah, dan tidak berdaya itu akhirnya memutuskan untuk mencari kedua putrinya. Dia bangun dan mengendap-ngendap di jalanan semak-semak. Dia berhenti sejenak ketika bertemu dengan sekumpulan tentara asing yang sedang menyiapkan senjata mereka seolah siap untuk meluncurkan peluru ke arahnya. Dia mundur ke belakang beberapa langkah. Dia menabrak seseorang di belakangnya. Nahas, nasib baik tidak memihak padanya. Seseorang yang baru saja dia tabrak itu adalah tentara asing itu. Dia mulai panik dan kebingungan Tidak ada sedikit pun celah untuknya kabur dari situasi itu.

Dia berdoa kepada Allah di dalam hati berharap ada bala bantuan yang datang tepat waktu untuk saat ini. Bau tanah mulai tercium. Malaikat maut sudah siap untuk memenuhi perintah mencabut nyawanya. Kakinya gemetaran dan melemas hingga membuatnya duduk tersungkur ke tanah. Di saat-saat terakhir pun dia masih memikirkan kedua putrinya, dia menangis tanpa suara.

“DOR! DOR! DOR!” Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Bala bantuan datang. Itu adalah prajurit TNI, meskipun jumlah dari mereka masih kalah banyak dari tentara asing. Namun wanita itu beruntung karena dia memiliki sedikit celah untuk kabur, setidaknya dia dapat melarikan diri untuk menyelamatkan kedua putrinya. Prajurit TNI dan tentara asing itu saling baku tembak satu sama lain, wanita itu berlari perlahan. Nahas dia ketahuan oleh salah seorang tentara asing, tentara asing itu menembakkan peluru ke arahnya. Peluru itu mengenai kepalanya. Wanita itu tewas di tempat. Kematiannya sangat sadis, tubuhnya terjatuh ke tanah, darah berterbangan ke mana-mana, darahnya membasahi tanah, bau amis tercium sangat menyengat dari darahnya. Wanita itu gagal menyelamatkan kedua putrinya. Para TNI yang melihat hal itu langsung menembakkan kembali pelurunya ke arah tentara asing tadi.

Perang masih berlanjut dan berlangsung selama 3 tahun. Perang ini telah menggugurkan sebagian besar TNI, polisi, tim medis penyelamat, dan masih banyak lagi. Sebagian besar para warga tewas dan tidak dapat dimakamkan dengan layak dan sebagian warga lainnya dipaksa bekerja untuk mereka. Masyarakat negara asing telah menduduki 60% negara Indonesia, lahan-lahan masyarakat Indonesia dirampas begitu saja oleh mereka, tidak hanya itu bahkan rumah sakit, sekolah, dan ibukota pun telah berhasil mereka rampas. Semua stasiun tv telah berhasil mereka kuasai. Dan hanya radio yang dapat digunakan untuk mendapat informasi untuk saat ini. Hal yang sebelumnya terjadi pada masa sebelum Indonesia merdeka kembali terjadi. Para tentara Indonesia  berkumpul di suatu markas tersembunyi. Mereka sedang membahas rencana penyerbuan tentara negara asing. Mulai rencana penyerbuan markas, perampasan senjata, hingga rencana membebaskan masyarakat Indonesia dari penjajahan mereka. Malam itu pukul 02.00 WIB, para tentara berkumpul di sebuah markas yang terletak di tengah hutan.

Seorang gadis berumur 18 tahun dengan seragam tentara darat Indonesia memimpin mereka untuk membahas rencana penyerbuan negara asing yang menjajah Indonesia. Sebelumnya dia berhasil membebaskan 40% masyarakat Indonesia. Dia juga berhasil menggugurkan tentara negara asing dan merampas senjata mereka melalui teori penyerbuannya yang cukup luar biasa. Kini bisa dibilang kekuatan tentara Indonesia yang tadinya sempat melemah kini mulai kembali menjadi kuat berkatnya. Dia adalah orang termuda di rapat itu, bahkan para jenderal tentara Indonesia dengan senang hati mendengar teori penyerbuannya. Tujuannya berada di sini bermula untuk membalas dendam bagi desanya. Setelah selamat dari penyerbuan itu akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dengan tentara Indonesia. Dia mulai belajar menembak, meskipun terbilang sulit untuknya yang pada saat itu masih berumur 15 tahun. Namun usahanya kini mulai membuahkan hasil, orang-orang yang tadinya meremehkan dia yang seorang anak kecil, kini menghormatinya sebagai orang yang sangat berjasa. Dia dikenal dengan “gadis pemberani dengan 1001 teori perang”.

Penyerbuan yang kali ini bertujuan untuk menggugurkan para jenderal negara asing. Teori penyerbuan kali ini terbilang sangat matang. Seluruh senjata sudah sangat lengkap. Para TNI mulai menjalankan tugasnya untuk melindungi Indonesia. Penyerbuan dilaksanakan pada pukul 3 pagi. Para tentara asing tengah lengah saat ini. Karena mereka menganggap mereka telah menguasai hampir seluruh negara Indonesia dan sebentar lagi Indonesia akan jatuh seutuhnya kepada mereka. Malam itu sangat menegangkan, gadis itu memimpin penyerbuan para penjajah di malam itu, ya! Gadis itu seorang Jenderal wanita termuda Indonesia, dan peperangan dimulai ketika gadis itu memberi aba-aba. Dan… “DOOOR!!!”

2 Bulan Kemudian, Jakarta, 7 Maret 2030

Suasana di Istana Negara yang berada di daerah Ibukota Jakarta pada hari itu sangat ramai. Para pejabat negara seperti para menteri turut hadir di sana. Para Polri, TNI, dan lain sebagainya juga hadir. Ruangan itu dipenuhi dengan suara orang-orang. Mulai dari suara orang-orang yang berbincang dan juga suara orang-orang yang tertawa bahagia. Seorang gadis berumur 18 tahun dengan kebaya merah dan rok yang terbuat dari kain batik memasuki ruangan aula yang begitu besar dan dipenuhi orang-orang. Semua pandangan tertuju kepadanya. Di antara mereka menghampiri gadis itu dengan tujuan berkenalan atau dengan tujuan agar bisa lebih akrab dengannya. Istana Negara dijaga ketat oleh paspampres pada hari itu, para reporter hanya dapat melakukan siaran langsung di depan pagar Istana Negara. Di depan Istana Negara dipenuhi oleh wartawan dan reporter. Para wartawan berharap dapat bertemu dengan pemeran utama hari ini, ya, gadis itu adalah salah satu pemeran utama hari ini.

Di depan Istana Negara juga dipenuhi oleh para warga negara Indonesia yang ingin bertemu dengan gadis itu, jalanan dipenuhi dengan orang-orang yang membawa bendera merah putih dan posternya, para reporter berlalu lalang untuk melaporkan situasi di Istana Negara saat ini. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya acara hari ini di Istana Negara dimulai. Acara ini diberi tema dengan “Pemberian Gelar Pahlawan Nasional”. Para warga yang tadinya duduk di trotoar mulai menyiapkan kamera untuk merekam dari luar meskipun tidak terlihat dengan jelas, begitu pula dengan reporter yang langsung bangun dan menyiapkan kamera untuk merekam acara “Pemberian Gelar Nasional”.

Suasana di Istana Negara dalam sekejap menjadi hening ketika Presiden dan Wakil Presiden memasuki ruangan. Tokoh utama hari ini berbaris dengan rapi di karpet merah, Presiden NKRI memulai acara“Pemberian Gelar Pahlawan Nasional” dengan pidato dan disambung dengan pidato dari Wakil Presiden. Pemberian gelar ini berlangsung selama 3 jam, sudah dua jam berlalu sejak Presiden menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada para pahlawan yang telah banyak berjasa kepada Indonesia. Dan kali ini giliran gadis itu.

“Dengan ini saya Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Saidah Amira atas jasanya selama ini mempertahankan NKRI dari para penjajah negara asing. Saya mengucapkan banyak terimakasih atas semua jasa anda yang begitu besar untuk negara kita tercinta, anda telah banyak membawa perubahan bagi Negara Indonesia. Saya ucapkan selamat kepada Anda yang telah menjadi Pahlawan Nasional Negara Indonesia!” Seusai pemberian gelar, orang-orang bertepuk tangan dengan serempak, senyum terukir di wajah mereka. Begitu pula di wajah para masyarakat Indonesia, dan di wajahnya.

Dia bangga telah membawa banyak perubahan bagi negara Indonesia. Air mata keluar begitu saja dari matanya. Tangis haru itu membuat orang-orang di sekitarnya ikut tersenyum dan sebagian di antaranya menangis karena terharu. Negara Indonesia kini telah kembali damai dan aman. Amira berjalan menghampiri seorang gadis dengan kebaya berwarna merah muda dan rok batik. Gadis itu duduk di kursi roda dan tersenyum bahagia sekaligus bangga.

 “Ambo panggak samo uni!”ucap gadis kecil itu, Amira merangkul gadis kecil yang terduduk di kursi roda itu. Dia Sofi, meskipun dia telah lumpuh akibat adanya tembakan hari itu, dia tidak tewas karena dibawa oleh seorang gadis dari negara asing tersebut. Dia dirawat oleh gadis negara asing itu dengan alasan sebagai tahanan, hingga Amira menyelamatkannya. “Tarimokasih karano kau masiah iduik”ucap Amira sambil memeluknya erat. []

Karya cerpen siswa ini dilombakan pada CoRSA IV tahun 2020

Editor oleh Teuku Mukhlis

Baca juga cerpen perang yang berjudul PERTEMPURAN DI KAMPUNG LEMBU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here